Cerita Vampire "Page 1 The Pure Blood"



The Pure Blood

Semua terlihat begitu nyata, aroma, hembusan angin yang sangat dingin,suara halilintar menerkam telingaku dan senja yang begitu gelap. Kali ini suasana benar-benar berbeda ,tak seperti biasanya ,05:00 pm terasa seperti pukul 12:00 pm. Aku tetap berjalan pulang menuju rumah yang sekitar 3 km dari tempat ku berdiri saat ini. Jalanan begitu sunyi ,mungkin hujan dan mendung yang membuat jalanan tidak dipenuhi warga sekitar. Aku berteduh didepan sebuah bangunan tua disitu tertulis sebuah tulisan Romania kuno “HIDUP BARU KEABADIAN” entah aku bahkan tidak mengerti kenapa aku dapat membaca tulisan itu sedangkan aku tinggal di London dan sama sekali tidak mengenal bahasa Romania apalagi Romania Kuno.
Bangunan itu tampak sangat tua,membuat ku sangat tertarik untuk melihat kedalam,aku membuka pintu itu ,mengejutkan tidak terkunci,atau  mungkin ini merupakan tempat wisata di sini? Atau museum? Namun yang jelas aku sangat menyukai unsur berbau kuno ya aku sangat tertarik hal-hal berkaitan dengan sejarah. Didalam bangunan itu sangat luas,padahal dari luar begitu kecil. Terdapat banyak patung-patung Romania kuno,lukisan yang cat nya sangat berbeda dengan lukisan masa kini, sangat menakjubkan namun sedikit mencekam. Terdapat anak tangga mengelilingi sebuah ruangan seperti ruang keluarga,tunggu apa ini rumah orang? Ah aku sudah sangat lancang sekali jika memang benar,namun aku sangat penasaran seolah rumah ini ingin menunjukkan ku sesuatu. Aku pun menaiki anak tangga satu persatudan memperhatikan photo yang tergantung di dinding-dinding sepanjang anak tangga ini,satu photo yang membuatku tertarik untuk berhenti sejenak disalah satu anak tangga dan menatap photo itu (mungkin lebih tepat sebuah lukisan bukan photo “camera”).
Lukisan itu sangat besar didalamnya terdapat beraneka ragam wajah yang tersusun rapi,bagaikan kliping foto ,yang dibawah masing-masing foto itu terdapat keterangan nama, asal  ,tanggal lahir, dan… tanggal kematian. Aku sedikit tercengang ,didalam lukisan besar itu terdapat sekitar 120 foto dengan wajah yang berbeda dan asal yang berbeda. Mereka tampak seperti  orang pada zaman sebelum perang dunia terjadi. Aku amati setiap wajah dalam lukisan itu ,wow benar sekali mereka lahir ketika bahkan mungkin Ratu Elizabeth I belum lahir. Aku melanjutkan berjalan menaiki anak tangga sampai akhirnya aku menemukan sebuah ruangan yang sangat luas lebih luas dari dibawah tadi. Terdapat banyak ruangan seperti kamar, dan sebuah lorong yang sangat panjang diterangi obor api, tunggu apa rumah ini tidak mampu membayar listrik di London? Ah sudahlah tidak penting. Ada satu kamar yang pintunya terbuka ,tanpa ragu aku memasuki ruangan itu dan sangat luar biasa ruangan ini seperti ruang meeting di perusahaan, namun ini sangat luas,tanpa LCD proyektor,maupun AC dan ya hanya obor penerangnya serta lukisan-lukisan tergantung.
Meja yang panjang dengan kursi sebanyak…. Ah? 120? Angka yang tidak asing namun sungguh siapapun yang membuat bangunan ini sangat luar biasa. Didepan terdapat 3 kursi yang dimana kursi itu tidak bergabung dengan kursi disekitar meja panjang ini, mungkin 3 kursi itu, kursi untuk seorang petinggi dari masing-masing daerah berbeda. Dan di atas kursi tersebut masing-masing terdapat lukisan wajah. Tepat sebelah kanan terdapat lukisan dengan nama “Aleight George Wellern” wajahnya sangat tenang, rapi, dan cerdik entahlah aku seperti dapat membaca watak secara spontan saat ini ,lalu sebelah kiri terdapat lukisan dengan nama “Algonzo Ludwirdg Evelluz” didalam lukisan ini dia memiliki tatapan yang sangat dingin, licik mungkin entahlah aku sangat tidak suka dengan lukisan ini, dan yang ditengah “Antonio Moruce Sachort” yang ini tampak lebih tampan,bijaksana,dia sangat tampan namun sayangnya dia terlalu tua untuk ku. Baiklah seprtinya aku harus keluar ,ketika aku berada diluar ruangan tiba-tiba seorang lelaki dengan wajah yang dingin,menggunakan celana hitam dan kemeja putih, pucat, dan BERTARING dia menatapku ,aku berlari ketakutan namun rumah ini sangat luas, lorong sangat panjang dan pria itu mengejarku sangat cepat,aku menuruni anak tangga dan terjatuh oh sial! Kaki ku terkilir tepat dianak tangga ke 7 dan pria itu didepan mataku ,seolah siap untuk menerkam ku. Aku berteriak dan seorang seorang wanita sangat sexy dengan pakaian merah maroon yang membuat bentuk tubuhnya sangat indah dan seorang pria berambut panjang dengan badan kekar dan celana jeans mendatangi kami,ah  aku sangat berterimakasih mereka datang aku harap mereka membantuku,namun.. tidak! Mereka hendak ,mengepungku dengan senyum licik aku memohon
“maafkan aku jika aku lancang memasuki rumah ini aku hanya berteduh dan rumah ini sangat sepi bahkan tidak ada yang menjaga nya aku hanya berniat melihat – lihat rumah ini aku mohon jangan bunuh aku”. Aku hanya pasrah dan mereka membuka mulut mereka mengeluarkan taring dan…



ΩΩΩ

“TIDAKKKK JANGAN GANGGU AKU!!!”

“Vesile! Apa kau baik-baik saja?”. Bibi Mareta sontak kaget mendegar teriakan Vesile.
Ia bergegeas menuju kamar Vesile dan mencoba membangunkan Vesile.

“Vesile sadarlah..”.

Vesile seketika membuka mata dan seluruh tubuhnya bergetar, keringat membasahi wajahnya sangat tegang. Dia menatap sekeliling kamarnya dan bibi Mareta disebelahnya,dia bernafas lega.

“huh hanya mimpi.” Ucap Vesile dengan lega.

“kau ini ada apa? Akhir-akhir ini sering sekali tidur dan berteriak”. Tanya bibi Mareta khawatir.

“entahlah mimpi buruk yang sama namun sering sekali dan sudahlah bibi hanya mimpi buruk biasa.. tak masalah mungkin aku kelelahan.” Ucap Vesile menenangkan suasana.

Vesile bergegas bangun dan menuju kamar mandi. Bibi Mareta tertegun dan masih duduk ditempat tidur Vesile dan melamun. Vesile tercengang heran melihat bibinya.

“ bibi? Apa bibi baik-baik saja? Tak usah dipikirkan tentang mimpi buruk yang sering ku alami akhir-akhir ini aku hanya kelelahan mungkin membutuhkan beberapa pil tidur”. Ucap Vesile berdiri disebelah Bibi Mareta.

Bibi Mareta meraih tangan Vesile dengan lembut dan menyuruh Vesile duduk disebelahnya.
“nak apa yang ada didalam mimpimu?.” Tanya bibi Mareta.

Sontak Vesile heran,ya sangat heran karena bibi Mareta tidak pernah mempercayai mimpi,ramalan atau hal-hal yang berkaitan dengan semacam mitos.

“ah em apa bibi benar-benar yakin menanyakan hal demikian? Maksudku kau selalu berkata mimpi buruk hanyalah bunga tidur yang tidak indah secara logika,lalu kau menanyakan hal ini.”

“ceritakan apa yang ada dimimpimu?.” Tanya bibi Mareta yang mulai menunjukkan expresi serius.

Vesile pun menceritakan beberapa mimpi buruk yang akhir-akhir ini mengganggunya. Namun mimpi yang sangat membuatnya takut dan bahkan tak ingin tidur lagi adalah ia menyaksikan kematian kedua orang tuanya,yang samar-samar namun itu sangat menyayat hatinya.

“sudah saatnya..” tiba-tiba bibi Mareta berkata demikian.

“apa maksud mu bibi?.”

“tidak ada apa-apa,maksud bibi sudah saatnya untukmu mandi bibi tunggu diruang makan.” Ucap Bibi Mareta sambil mencium kening Vesile dan tersenyum manis.

“ya sudah kuduga bibi takkan memberi solusi hmm.” Geurutu Vesile.
Bibi Mareta hanya tersenyum dan berjalan menuju dapur.

Vesile diasuh Bibi Mareta sejak ia berusia 2 tahun , kedua orang tuanya meninggal. Bibi Mareta tidak mempunyai anak bahkan suami. Ia sangat menyayangi Vesile lebih dari menyayangi dirinya sendiri. Bibi Mareta adalah kakak dari Ibu nya Vesile. Dengan rambut pirang,dan selalu menggunakan lensa mata karena bibi Mareta susah untuk membaca jadi ia menggunakan lensa mata daripada kaca mata begitu lah bibi Mareta menjelaskan kepada Vesile kenapa mata bibi  Mareta berwarna kuning. Tinggi dengan kulit yang putih membuatnya tampak seperti masih 30 tahun padahal jika dilihat dari tahun lahir ayah Vesile yang lebih muda bibi Mareta harusnya berumur 50 Tahun atau bahkan lebih?.
Vesile telah selesai bersiap-siap menuju sekolahnya,namun tunggu kenapa ada beberapa tukang masuk dan mengangkat barang-barang Vesile.

“hey hey ada apa ini! Ini barang ku! Berani-beraninya menyentuh barangku dan masuk kekamarku tanpa izin.” Vesile berteriak dan sangat kesal.

“maaf nona tapi kami sudah diizinkan oleh Nyonya Mareta”.  Jawab salah seorang pria yang mengankut barangnya.

“bibi?.” Ucap Vesile dalam hati.

Bergegas Vesile kebawah mendatangi Bibi Mareta dengan tampang yang kesal.

“ada apa sayangku? Duduklah bibi memasak Pancake kesukaanmu.” Ajak Bibi Mareta yang sedang sibuk memakan pancake nya.

“bibi.. kenapa kau menyuruh tukang itu mengangkut barang-barang ku? Aku harus kesekolah apa bibi mengusirku?”.

“duduklah nak bibi akan menjelaskan padamu..” Bibi Mareta mencoba tenang.
Vesile dengan expresi kesal duduk disebelah Bibi Mareta.

“ bibi sangat menyayangimu melebihi diri bibi sendiri Vesile, kau tau itu bukan?”.

“ya menyayangiku dan mengusirku begitu?!”.

“tidak mengusirmu hanya bibi ingin kau tinggal dengan saudarimu.”

Vesile menatap kaget kepada Bibi Mareta.

“tidak perlu menatap bibi seperti itu Vesile…”

“apa? Saudari? Maksud bibi anak-anak dari bibi Rosaline?.”

“bukan,tapi saudari kandungmu ya adikmu.”

“wow wow wow tunggu aku sedang tidak ingin bercanda bibi.”

“bibi juga tidak sedang bercanda. Vesile kau mempunyai seorang adik perempuan bernama Laura. Saat kalian dipisahkan Laura berusia 2 bulan dan kau berusia 2 tahun. Dia memiliki wajah yang sama seperti ayahmu namun memiliki mata dan senyum seperti mu ya seperti ibumu. Rambutnya coklat sama sepertimu dan dia memiliki watak yang sangat pendiam namun memiliki emosi yang tinggi  berbeda denganmu bukan? Ya..”

Vesile sangat antusias mendengarkan cerita bibinya, dia sangat bahagia ternyata dia tidak sendirian dia memiliki seorang adik perempuan yang umurnya berbeda 1 tahun dengannya.

“lalu kenapa kita dipisahkan lalu ia dengan siapa saat ini?.”

“karena.. karena saat itu bibi tidak mampu mengasuh kalian berdua dan bibi Rosaline lah yang merawat adikmu saat ini”.

“tunggu.. kenapa sama sekali bibi tidak pernah menceritakan padaku!”. 

“tenanglah Vesile,bibi tidak menceritakan padamu karena.. karena ini permintaan adikmu,ia tidak ingin kau begitu mencemaskan nya sampai kau meyelesaikan belajar mu”.

“jadi selama ini bibi sering menelphone bibi Rosaline ternyata bibi berbicara dengan Laura?”

“ya benar sekali, sebentar lagi kau berusia 19 tahun, bibi akan menyatukanmu dengan Laura”

“tapi bukankah Laura menginginkanku menyelesaikan sekolahku?lalu bagaimana aku menyelesaikan sekolahku jika aku pindah bibi?kenapa hidupku serumit ini ..”

“bibi rasa saatnya kau bertemu dia dan tinggalah bersama mereka,kau akan sekolah disana dan bibi sudah mengurus sekolahmu.”

“bibi.. lalu bagaimana denganmu? Kau akan sendirian disini ikutlah..”

Vesile memeluk Bibi Mareta dan menangis. Bibi Mareta pun menenangkan Vesile dengan senyum berkaca-kaca.
vampire
“dengarkan aku Vesile apapun yang terjadi Bibi Mareta sangat meyayangimu,jika bibi berubah menjadi tidak mempedulikanmu atau menyakiti hatimu kau boleh membunuh bibi. Bibi akan tinggal disebuah tempat untuk urusan penting,tinggalah di rumah Bibi Rosaline jika sesuatu terjadi jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan”

Bibi Mareta memberi sebuah kalung dengan liontin mawar merah darah yang indah kepada Vesile...

  Next story on progress... 

Comments

Post a Comment